PENAMPAKAN KELOMPOK 02 PRABOWO CS BERADA DI BANDARA SAAT MENDEKATI PENGUMUMAN RESMI KPU

APAKAH TUJUAN PRABOWO CS BERADA DI BANDARA? 

Gilabandar.com

Foto yang beredar viral di grup-grup WA bukanlah foto lama. Foto tersebut cukup baru dan kini Prabowo berada di Brunei bersama Idrus Sambo, Amien Rais, Sugiono, Angga Raka, Rizky Irmansyah dan beberapa orang lainnya. Elite Gerindra dan ketua presidium 212.

Pertanyaan yang langsung muncul di benak kita adalah, untuk apa Prabowo ke Brunei? Bukankah sebentar lagi KPU akan mengumumkan hasil penghitungan berjenjangnya?

Tak ada yang bisa menjawab dengan pasti pertanyaan tersebut. Dari Fadli Zon hingga Dahnil, semuanya kebingungan. Bahkan Idrus Sambo yang kepergok bersama rombongan membantah bahwa itu foto lama dan dia sudah lupa. Namun Dahnil sudah mengkonfirmasi bahwa Prabowo saat ini memang sedang di Brunei.

Bagi saya, setiap kejadian, sikap dan langkah politisi itu seperti teka-teki. Untuk setiap pertanyaan yang tak dijawab, kita dipaksa mencari tau sendiri jawabannya. Dan berikut adalah analisis saya.

Prabowo beberapa hari ini terlihat tidak bisa menerima kekalahannya. Dengan data-data hoax, Prabowo berulang kali mengklaim kemenangannya. Tak lupa, provokasi terjadinya people power juga diselipkan di setiap pidato, sekalipun itu hanya lewat pancingan dan respon pendukungnya.

Semakin hari semakin menggila. Media asing dipanggil, Prabowo minta diberitakan bahwa dirinya tak akan mengalah di Pilpres 2019 ini. Lalu yang terakhir 3 hari lalu, Prabowo mengatakan akan membuat surat wasiat dan akan terus melawan kecurangan pemilu.

Suasana politik tanah air semakin rumit karena beberapa elite Gerindra ikut memprovokasi. Tidak akan bayar pajak, tidak akan mengakui pemerintahan Jokowi, sampai menolak hasil Pileg serta siap untuk tidak punya wakil di Senayan. Istilah sederhananya, Gerindra mengundurkan diri.

Provokasi people power yang didengungkan oleh pendukung Prabowo direspon sangat cepat oleh Kepolisian. Kivlan Zen sempat dicekal, Eggi Sudjana ditangkap, Amien Rais juga sudah dilaporkan. Bahkan Bachtiar Nasir yang begitu frontal teriak revolusi dan people power, terkencing-kencing kabur ke Arab Saudi karena tersandung kasus pencucian uang.

Satu persatu orang-orang Prabowo ditangkap polisi. Dari elite sampai relawan yang tak dikenal publik, semua diciduk karena terbukti melakukan provokasi. Polri nampak lebih sangar.

Di sisi lain, Ratna Sarumpaet dalam kesaksiannya mengatakan, bahwa konpres yang dilakukan oleh BPN adalah inisiatif Prabowo. Prabowo lah yang memprovokasi dan mengkapitalisasi hoax muka lebamnya menjadi perbincangan publik.

Lengkap sudah dosa-dosa Prabowo. Terlibat menyebarkan dan membesarkan hoax Ratna. Terbukti menggunakan data hoax untuk mengklaim kemenangan di Pilpres 2019 dengan tujuan memprovokasi masyarakat. Dua peristiwa ini sudah cukup untuk menyeret Prabowo ke penjara.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya, masa mengklaim kemenangan berdasarkan data tidak boleh? Bukankah datanya ada? Begini. Klaim kemenangan Prabowo berbeda dengan 2014 lalu. Dulu ada landasannya, lembaga survei. Jadi ketika 2014 ternyata Jokowi yang menang, yang dihukum adalah lembaga surveinya. Tapi sekarang, Prabowo mengklaim dengan data internal yang sangat-sangat aneh dan tidak layak disebut sebagai data, apalagi untuk dijadikan alasan mengklaim kemenangan.

Lalu apakah atas alasan ini Prabowo kabur ke Brunei? Bisa jadi salah satu alasannya memang itu, menghindari kasus. Tetapi ada alasan atau faktor yang lebih menyeramkan. Yakni menghindari terjadinya kerusuhan.

Sejarah negeri ini pernah mencatat, Prabowo kabur ke Yordania setelah terjadi kerusuhan dan saat dirinya terjerat kasus pembunuhan. Maka kalau hari ini Prabowo kembali kabur, setelah serangkaian provokasi dan ‘surat wasiatnya’ maka kemungkinan besar Prabowo kabur karena dua alasan yang sama. Kasus hukum dan kerusuhan. Bedanya sekarang lebih antisipatif karena Prabowo bukan bagian dari kekuasaan seperti 98 lalu.

Di atas sudah saya jelaskan kasus hukum yang dapat menjerat Prabowo. Selanjutnya mari kita tengok potensi kerusuhan.

Meski PKS, PAN dan Demokrat sudah menarik diri dari klaim kemenangan dan tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh Gerindra, tapi kubu Prabowo masih punya ormas-ormas garis keras di belakangnya. Yang terbukti selama ini loyal dan menjadi penyumbang massa terbanyak dalam aksi-aksi demo maupun kampanye.

Ada FPI, ormas yang frustasi karena Rizieq tidak pulang-pulang karena kasus mesum. Ada HTI yang juga frustasi karena sudah dibubarkan oleh pemerintah. Dua ormas ini akan melakukan apapun untuk melawan Jokowi.

Ketika massa FPI dan HTI selalu siap turun ke jalan, hanya butuh satu atau dua teroris untuk meledakkan diri di kerumunan. Maka selanjutnya akan terjadi kekacauan, ketakutan dan ketidak percayaan terhadap pemerintah. Kalau sukses terlaksana, kabar terorisme ini pun akan secepat kilat menjadi perbincangan dunia internasional. Pemerintahan Jokowi akan digoyang dari dalam dan luar negeri.

Inilah kenapa Polri begitu rajin menangkap jaringan JAD, kelompok teroris yang selama ini juga menunggu momentum untuk menciptakan rusuh atau chaos. Setidaknya 29 orang yang terindikasi akan melakukan pengeboman pada 22 Mei sudah diringkus.

Saya sudah kehabisan kata-kata untuk Prabowo dan orang-orang macam Amien Rais. Karena nampaknya, segala cacian, makian dan doa buruk kepada mereka, tidak akan pernah sebanding dengan kerusakan yang telah mereka ciptakan. Jadi lebih baik kita berdoa saja agar Tuhan melindungi negeri ini.

Kita yakin TNI dan Polri sudah belajar dari pengalaman, belajar dari sejarah. Sehingga ke depan Indonesia akan tetap damai dan aman. Begitulah kura-kura.

Sumber : Seword.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *